Teknik Informatika

Inspirasi

Opini

Tips-Trik

Galery

Adalah hal biasa di dunia perkuliahan bahwa tak ada yang lebih menakutkan bagi seorang mahasiswa selain Skripsi dan Dosen Killer.  Judul dan materi yang diangkat menjadi karya tulis skripsi umumnya sarat dengan teori dan istilah ilmiah yang keren di bidangnya. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku bagi para mahasiswa gokil berikut yang sukses lulus ujian skripsi dan tesis dengan judul yang amazing. Yah, judul skripsi dan tesis mereka mungkin justru akan membuat kamu tertawa.

Siapa saja dan apa saja sih judul skripsi dan tesis lucu mereka? berikut ulasannya.

1. ANALISA GAYA TANGAN ULTRAMAN TERHADAP KEKUATAN SERANGAN PADA MONSTER.
Mau dibilang konyol? silahkan. Tapi nyatanya judul konyol tersebut mengantarkan Iga Ari H ke panggung wisuda.

2. REPRESENTASI KEKUATAN PADA HERO PEREMPUAN DALAM DOTA2
Netizen pasti tahu lah kalau DoTA2 adalah sebuah permainan atau game online yang terkenal. Berkat game ini, Guguh Sudjatmiko yang juga seorang staf pengajar di Universitas Surabaya atau UBAYA meraih gelar Magister dengan predikat Cumlaude di Institut Teknologi Bandung (ITB). Judul thesis ini terinspirasi fenomena kerapnya penggunaan hero perempuan dalam setiap sesi permainan di lingkungan rekan sejawatnya. Selain itu Guguh juga mengamati penggunaan hero perempuan lebih sering mengantarkan kemenangan dibanding hero laki laki. Abstraknya bisa kamu lihat di sini.


3. MENCARI MAKNA HIDUP MELALUI DERITA-CINTA-TAK-TERBALAS
Cinta tak terbalas adalah derita bagi semua orang, kecuali untuk Stephany Iriana mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Depok. Ia lulus sarjana karena "mencari makna hidup melalui derita cinta yang tak terbalas". Selalu ada hikmah di setiap kisah sobat.

4. JAPAN ADULT VIDEO
Japan Adlut Video (JAV) adalah video dewasa (porno) yang menyajikan adegan-adegan seks dari Jepang. Weleh, berarti ini mah skripsi mesum? Hehe. Jangan dilihat mesumnya, lihat keberanian dan keberhasilannya mengangkat studi kasus 4 mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) penggemar JAV menjadi karya skripsi yang lulus uji. Selamat ya saudara *tiiiiiiiitttttt* (sensor) atas wisudanya.

5. ANALISA DAYA TAHAN JOMBLO TERHADAP GAYA TIKUNG LAWAN PADA GEBETAN SETARGET
Mungkinkah ini mahasiswa jones (jomblo ngenes) dari awal semester hingga skripsi? Sampai-sampai kisah hidupnya dijadikan materi skripsinya. Semoga dengan skripsi dan gelar sarjananya, Barujan Dakemareen dari Universitas Diponegoro (Undip) bisa mendapat jodoh yang tepat dan hidup bahagia. Amin.

Weleh-weleh, sementara sebagian besar mahasiswa pusing tujuh keliling kali sembilan (lebay) mencari judul yang pas untuk skripsi, mereka justru berhasil lulus dengan judul 'seenaknya'. Itulah kehidupan, semua serba mungkin. Semoga menginspirasi dan menghibur sobat.
Credit: duniaku.net | ubaya.ac.id | liataja.com |
Normalnya, seorang yang baru lulus dari universitas (fresh graduate) memiliki pendapatan bulanan pada kisaran jutaan atau belasana juta. Bagi Dea Valencia Budiarto hal tersebut tak berlaku. Masih dalam usia 19 tahun, ia sudah memiliki pendapatan miliaran rupiah per tahun. Semua itu berkat ketekunannya menggeluti bisnis fesyen budaya, Batik Kultur by Dea Valencia.

Sejak usia 16 tahun, Dea sudah menggali kreativitasnya. Ketidaksanggupannya membeli batik yang ia inginkan justru menjadi awal mula kesuksesannya. Dea menggeledah batik-batik lawas, menggunting sesuai pola yang ia suka, dan membordirnya. Ia ciptakan pakaian dengan hiasan batik lawas berbordir tadi.

"Ini pakai batik lawas yang udah lama disimpan di lemari misalnya. Kan sering rusak, entah dimakan ngengat ataupun bolong kena banjir. Ya nggak bisa disimpan lagi kan? Makanya itu saya gunting-guntingin, misalnya bunga-bunganya. Nah dari situ saya bordir dan digabung dengan kain lain," ungkap Dea kepada Beritasatu.com di acara Wirausaha Muda Mandiri, Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (19/1).

Dari situ terciptalah kreasi Batik Kultur. Awal produksi, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Kini? Ada 800 potong Batik Kultur yang dipasarkan per bulannya. Dengan harga Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara dengan Rp 3,5 M per tahun atau Rp 300 juta per bulan.

Dea memulai Batik Kultur benar-benar dari nol. Bahkan ia sendiri yang menjadi model Batik Kultur. Wajar karena wajah Dea terbilang cocok di hadapan kamera. Bahkan Dea sendiri yang mendesain produk Batik Kultur padahal ia mengaku tak bisa menggambar.

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

Salah satu prinsip yang dipegang Dea dalam memasarkan produknya sederhana dan menarik. Ia tak mau menjual barang yang ia sendiri tak suka.

"Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka. Jadi barangnya itu kalau dilihat tidak terlalu nyentrik, lebih seperti pakaian sehari-hari," imbuh gadis asli Semarang.

Tak cuma batik, Batik Kultur pun merambah ke tenun ikat. Khusus yang satu ini, Dea harus membelinya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan sentra tenun ikat. Jika dulu hanya membeli beberapa meter kain, kini sekali kulakan Dea membeli tak kurang dari 400 meter tenun ikat.

Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Batik Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan permasalahan.

Dea menjadikan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari sana, referensi untuk Batik Kultur menyebar dari mulut ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia nyata menyukseskan bisnis Dea.

Namun sama seperti bisnis sukses lain, Batik Kultur menapak bukan tanpa hambatan. Dea pernah dibuat depresi selama seminggu dan menjadi tak produkti karena masalah hak paten.

"Hambatan... dulu pernah masalah di hak paten. Sebenarnya dulu namanya bukan Batik Kultur by Dea Valencia tapi Sinok Culture. Tapi waktu diurus nama mereknya ternyata sudah ada yang pakai merek Sinok. Saya sempat stress selama seminggu. Karena nama Sinok sangat berarti buat saya. Sinok adalah nama panggilan saya sejak kecil," tutur Dea.

Melihat segala pencapaian Dea, sulit mempercayai Batik Kultur ada di tangan seorang perempuan muda usia 19 tahun yang sudah memegang gelar sarjana komputer.

"Saya dulu nggak tahu kenapa sama ibu 22 bulan udah disekolahkan. Umur lima tahun udah masuk SD. SMP dua tahun, SMA dua tahu. Jadi itu 15 tahun masuk kuliah. Tiga setengah tahun kuliah, jadi umur 18 udah lulus," jelas Dea.

"Setelah lulus pulang ke rumah di Semarang fokus bisnis. Tiap bulan nambah dua tiga pegawai, jadi kini sudah ada 36," imbuh Dea yang tinggal bersama orangtuanya di Gombel, Semarang.

Meski masih muda dan memiliki pendapatan miliaran rupiah, Dea tak melupakan lingkungan sekitar. Menarik jika mendengar pengakuan Dea tentang beberapa karyawannya.

"Saya juga mempekerjakan karyawan yang misal nggak ada kaki tapi tangannya masih bisa kerja. Penjahitnya ada enam yang tuna rungu dan tuna wicara. Pertimbangannya? Giving back to society (timbal balik kepada masyarakat)," terang Dea. (beritasatu.com)