![]() |
| Wisuda, ceremonial ahir pendidikan di perguruan tinggi. |
Semua orang pasti sepakat bahwa menuntut ilmu atau belajar adalah suatu keharusan agar kita tidak terjebak pada keterpurukan karena kebodohan. Orang yang bodoh adalah yang berhenti belajar. Tidak ada para ahli maupun wirausahawan sukses yang mengatakan bahwa belajar itu tidak penting. Cara atau metode menuntut ilmu sangat banyak, ada yang belajar langsung dari realitas kehidupan, belajar langsung dengan mentor, belajar di bangku sekolah, belajar dari kesalahan diri sendiri atau orang lain, dan lain sebagainya.
Begitu juga untuk menjadi wirausahawan sukses, berbagai cara terbentang untuk belajar menjadi wirausahawan sukses seperti yang disebutkan diatas. Yang sering menjadi kontroversi dan polemik adalah tentang apakah dengan mengeyam bangku sekolah yang semakin tinggi akan mempengaruhi kesuksesan mereka?. Bila kita kembali menilik kisah-kisah para wirausahawan sukses dengan pendidikan tinggi dan yang tidak, mungkin Anda juga akan cepat menyimpulkan bahwa hal tersebut bisa saja memiliki pengaruh namun bisa juga tidak. Mengapa demikian?
Banyak Pengusaha Sukses Yang Tidak Mengenyam Pendidikan Tinggi
Sudah banyak bukti wirausahawan sukses yang tidak mengenyam bangku sekolah tinggi. Ada yang karena tidak mampu bersekolah disebabkan ekonomi keluarga, ada yang di drop-out karena berbagai hal, ada juga yang memang akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah karena ingin memulai bisnis langsung. Bagi mereka, aksi nyata adalah yang terpenting. Mereka adalah orang-orang yang dididik lansung oleh keadaan. Tekad yang kuat, kenekatan, kecerdasan dalam berkreasi, dan kemauan belajar dari sekitar adalah modal utama mereka. Kepopuleran wirausahawan sukses yang tidak memiliki pendidikan tinggi telah memberi inspirasi dan motivasi bagi setiap orang yang ingin mencapai tujuan yang sama. Wirausahwan sukses tersebut adalah bukti bahwa kaya secara finansial tak perlu diraih dengan tingkat pendidikan tinggi. Banyak pendapat bahwa sistem pendidikan di sekolah atau universitas sering kali terlalu mementingkan otak kiri yang pada akhirnya melahirkan para pencari pekerjaan dan tidak memiliki keberanian untuk terjun ke dunia bisnis.
Banyak Juga Pengusaha Sukses Yang Mengenyam Pendidikan Tinggi
Namun disisi lain, banyak pula para wirausahawan sukses yang mengenyam pendidikan tinggi. Bagi mereka justru sekolah menjadi penting untuk belajar memperkaya ilmu. Persaingan yang sudah sedemikian ketat membuat mereka merasa harus memiliki “Well educated” dan “action oriented”. Karena bagi mereka menjadi wirausahawan sukses masa kini tidak hanya dengan bermodal aksi-aksi nekat penuh keberanian dan lain sebagainya, tetapi juga harus diiringi dengan jiwa serta pikiran yang terdidik agar lebih tepat dalam pengambilan keputusan yang tepat. Dengan sekolah yang tinggi juga akan memberikan banyak jaringan terlebih bila aktif dalam bebagai organisasi.
Bagaimana dengan pendapat saya pribadi?
Hmmm.. Menurut saya untuk bisa bersaing 10-20 tahun yang akan datang, pengusaha harus berpendidikan tinggi. Kenapa? terutama di generasi Millennials banyak sekali wirausahawan dan wirausahawati yang rata-rata berpendidikan tinggi. Termasuk millennials anak-anak Chinese. Sekolah di luar negri, pulang ke Indonesia membangun bisnis, membuat start up, karena hasil belajar dan pengalamannya melihat negara luar yang kemudian di aplikasikan di Indonesia. Kemudian memanfaatkan relasi yang didapat dari pendidikan di luar negri.
So, Artikel ini dibuat teruntuk generasi Millennials. Tempuhlah pendidikan setinggi mungkin jika ingin bisa bersaing 10-20 tahun yang akan datang. Karena anak-anak muda (Millennials) Chinese rata-rata mereka berpendidikan tinggi. Jika tidak, habis dan ketinggalanlah kamu di 10-20 tahun yang akan datang.
Itu saran dari saya.. Tentu setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, kondisi yang dihadapi pun berbeda. Sehingga keputusan untuk berpendidikan tinggi atau tidak adalah pilihan masing-masing individu, namun tentunya harus diiringi pertimbangan yang matang, siap menerima konsekuensi, dan bertanggungjawab atas pilihannya. Banyak jalan menuju roma, begitu pula jalan untuk menjadi wirausahawan sukses. Hal yang sama ada pada wirausahawan sukses adalah jiwa pembelajar yang tiada pernah henti.
Credit: FokusUKM
Normalnya, seorang yang baru lulus dari universitas (fresh graduate) memiliki pendapatan bulanan pada kisaran jutaan atau belasana juta. Bagi Dea Valencia Budiarto hal tersebut tak berlaku. Masih dalam usia 19 tahun, ia sudah memiliki pendapatan miliaran rupiah per tahun. Semua itu berkat ketekunannya menggeluti bisnis fesyen budaya, Batik Kultur by Dea Valencia.Sejak usia 16 tahun, Dea sudah menggali kreativitasnya. Ketidaksanggupannya membeli batik yang ia inginkan justru menjadi awal mula kesuksesannya. Dea menggeledah batik-batik lawas, menggunting sesuai pola yang ia suka, dan membordirnya. Ia ciptakan pakaian dengan hiasan batik lawas berbordir tadi.
"Ini pakai batik lawas yang udah lama disimpan di lemari misalnya. Kan sering rusak, entah dimakan ngengat ataupun bolong kena banjir. Ya nggak bisa disimpan lagi kan? Makanya itu saya gunting-guntingin, misalnya bunga-bunganya. Nah dari situ saya bordir dan digabung dengan kain lain," ungkap Dea kepada Beritasatu.com di acara Wirausaha Muda Mandiri, Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (19/1).
Dari situ terciptalah kreasi Batik Kultur. Awal produksi, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Kini? Ada 800 potong Batik Kultur yang dipasarkan per bulannya. Dengan harga Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara dengan Rp 3,5 M per tahun atau Rp 300 juta per bulan.
Dea memulai Batik Kultur benar-benar dari nol. Bahkan ia sendiri yang menjadi model Batik Kultur. Wajar karena wajah Dea terbilang cocok di hadapan kamera. Bahkan Dea sendiri yang mendesain produk Batik Kultur padahal ia mengaku tak bisa menggambar.
"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.
Salah satu prinsip yang dipegang Dea dalam memasarkan produknya sederhana dan menarik. Ia tak mau menjual barang yang ia sendiri tak suka.
"Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka. Jadi barangnya itu kalau dilihat tidak terlalu nyentrik, lebih seperti pakaian sehari-hari," imbuh gadis asli Semarang.
Tak cuma batik, Batik Kultur pun merambah ke tenun ikat. Khusus yang satu ini, Dea harus membelinya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan sentra tenun ikat. Jika dulu hanya membeli beberapa meter kain, kini sekali kulakan Dea membeli tak kurang dari 400 meter tenun ikat.
Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Batik Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan permasalahan.
Dea menjadikan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari sana, referensi untuk Batik Kultur menyebar dari mulut ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia nyata menyukseskan bisnis Dea.
Namun sama seperti bisnis sukses lain, Batik Kultur menapak bukan tanpa hambatan. Dea pernah dibuat depresi selama seminggu dan menjadi tak produkti karena masalah hak paten.
"Hambatan... dulu pernah masalah di hak paten. Sebenarnya dulu namanya bukan Batik Kultur by Dea Valencia tapi Sinok Culture. Tapi waktu diurus nama mereknya ternyata sudah ada yang pakai merek Sinok. Saya sempat stress selama seminggu. Karena nama Sinok sangat berarti buat saya. Sinok adalah nama panggilan saya sejak kecil," tutur Dea.
Melihat segala pencapaian Dea, sulit mempercayai Batik Kultur ada di tangan seorang perempuan muda usia 19 tahun yang sudah memegang gelar sarjana komputer.
"Saya dulu nggak tahu kenapa sama ibu 22 bulan udah disekolahkan. Umur lima tahun udah masuk SD. SMP dua tahun, SMA dua tahu. Jadi itu 15 tahun masuk kuliah. Tiga setengah tahun kuliah, jadi umur 18 udah lulus," jelas Dea.
"Setelah lulus pulang ke rumah di Semarang fokus bisnis. Tiap bulan nambah dua tiga pegawai, jadi kini sudah ada 36," imbuh Dea yang tinggal bersama orangtuanya di Gombel, Semarang.
Meski masih muda dan memiliki pendapatan miliaran rupiah, Dea tak melupakan lingkungan sekitar. Menarik jika mendengar pengakuan Dea tentang beberapa karyawannya.
"Saya juga mempekerjakan karyawan yang misal nggak ada kaki tapi tangannya masih bisa kerja. Penjahitnya ada enam yang tuna rungu dan tuna wicara. Pertimbangannya? Giving back to society (timbal balik kepada masyarakat)," terang Dea. (beritasatu.com)
